Tukang Becak Ini Handphone-nya BlackBerry Dakota

Posted on March 19, 2012

0


Promosi lewat internet tidak lagi istimewa. Tetapi, bagaimana kalau yang melakukan adalah tukang becak” Blasius Harry, penarik becak di Jogjakarta, melakukan terobosan itu dan meraup sukses besar.

PENAMPILANNYA keren. Memakai sepatu outdoor khas pendaki gunung, celana motif army, dan kaus. Gadget BlackBerry Dakota berada di genggamannya. “Kalau malam seperti ini, Twitter ramai banget. Saya sibuk balas mention satu per satu,” kata Blasius saat ditemui pekan lalu di pangkalan depan Hotel Airlangga, Prawirotaman, Jogjakarta.

Pemilik akun Twitter @harryvanjogja dengan 5.000 follower itu lantas bergeser ke warung tenda angkringan di samping becaknya. “Monggo Mas selebriti,” sapa si pemilik warung. Harry tertawa.

Memang, dia bukan tukang becak biasa. Belakangan, setelah bukunya yang berjudul The Becak Way laris manis (best seller versi Gramedia), Harry sering diundang tampil ke berbagai acara.

Selain sering muncul di televisi lokal Jogja, Harry pernah nongol di acara Hitam”Putih Trans 7 dan sebuah program di layar SCTV. “Tapi, profesi utama saya tetap pembecak. Saya nggak mau seperti Briptu Norman,” ujarnya yang merujuk pada Norman Kamaru, anggota Brimob Polda Gorontalo yang resign karena ingin terjun ke dunia hiburan.

Harry sudah 21 tahun menjadi tukang becak. Tepatnya, setelah kuliahnya di Jurusan Pendidikan Matematika Universitas Sanata Dharma Jogjakarta terhambat karena tak ada biaya. “Ayah saya juga tukang becak. Karena itu, saya juga coba narik,” kata alumnus SMU De Britto Jogjakarta angkatan 1988 tersebut. SMU De Britto adalah sekolah swasta favorit di Kota Gudeg.

Awal-awal mengayuh becak, Harry merasa berat. “Saya sewa ke orang. Karena belum bisa caranya, saya sempat njungkel (terguling) beberapa kali,” kenangnya. Keasyikan dengan becaknya, Harry justru tak lanjut kuliah. “Saya kuliah di jalanan,” ujarnya.

Pada periode 1991-1998, mengayuh becak memberikan pendapatan yang lumayan bagi Harry. Sehari dia mengantongi rata-rata Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu. Itu membuatnya percaya diri untuk memasuki hidup baru. Pada 1996 dia menikahi Anastasia Suyatni dan hingga kini dikaruniai tiga anak.

Namun, badai krisis 1998 membuat “bisnis” Harry terguncang. Industri pariwisata Indonesia terjun bebas. Harry pun kesulitan menggaet penumpang.

Suatu siang, saat melepas penat, dia iseng masuk ke warung internet (warnet). “Saya minta diajari internet. Ternyata asyik,” tuturnya.

Saking ketagihan, setiap kali mendapat penumpang, uangnya dia gunakan untuk main internet. “Saya mulai buat e-mail, lalu buat semacam blog. Juga, ada aplikasi di Multiply,” ujarnya.

Tulisannya di dunia maya mulai mendapat respons. Banyak yang mengira Harry hanya berpura-pura sebagai tukang becak untuk menarik simpati.

Tahun 2000 ada wisatawan asal Amerika Serikat (AS) yang penasaran dan mencari Harry di Prawirotaman. “Dia sangat senang ketika tahu saya memang benar-benar tukang becak,” ucapnya.

Pada 2003, melalui fasilitas chatting, ada seorang warga Belanda bernama Vanessa van Westen yang ingin bertemu. Lucunya, dia tak meninggalkan nomor telepon. “Hanya janjian di Malioboro Mall. Itu pun belum jelas jamnya,” tutur dia.

Pada hari yang ditentukan, Harry stand-by sejak pagi, sebelum mal buka. Jam demi jam berlalu, dia tak kunjung bertemu dengan Vanessa. Hingga menjelang malam, Harry hanya celingukan setiap ada wajah bule lewat.

“Pas saya mau pulang, eh ada suami istri turun dari eskalator lihat saya. Kita tatapan mata, mereka melambai,” ucapnya.

Setelah mendekat, Harry menyapa dengan bahasa Belanda yang dipelajarinya sejak SMA. “Rupanya benar, itu Vanessa dan suaminya. Sampai sekarang mereka jadi pelanggan setia dan kawan akrab di Facebook,” ujar pemilik dua akun Facebook karena temannya full itu.

Teman-teman Harry di internet makin banyak. Jika ada yang mau ke Jogja, mereka mengirim e-mail dulu ke Harry untuk booking. “Saya bersyukur karena jadi tahu banyak kepribadian orang-orang dari seluruh dunia,” ujarnya.

Harry pernah mengalami kejadian yang sangat memilukan. Saat itu, 26 Mei 2006, Harry sedang narik becak di pangkalannya. Wisatawan dan tamu asing lagi ramai-ramainya. “Saya sampai tidur gelar tikar di bawah pohon mangga sama teman-teman,” ujar Harry yang hari itu tidak pulang ke rumah di Trirenggo, Bantul. Keesokan harinya, pukul 05.00, Harry bangun, cuci muka, dan bersiap pulang.

Tidak sampai sejam kemudian, Harry merasakan guncangan. Orang-orang berlarian. Sejumlah bangunan runtuh. Suasana kacau. Harry sempat mengantar rekan dengan becak. Setelah itu, dia pulang naik bus dan turun di penitipan sepeda. Dia mengayuh sepeda ke rumah.

“Dari Prawirotaman ke selatan, jalan semakin parah, semakin parah, dan semakin parah. Saya kepikiran anak,” katanya. Anak ketiganya, Veronika Natalia Agnes Destriana, yang belum genap berumur setahun saat itu berada di rumah bersama sang ibu.

“Saya lihat kampung saya terang benderang. Ternyata nggak ada bangunan, cuma ada pohon. Banyak yang bersimbah darah dan sedih. Anak saya selamat, tapi istri belum ditemukan,” ungkap Harry yang tiba pukul 08.00 dan melihat kampungnya hancur.

Harry mencari istrinya di antara reruntuhan. Tiga jam pencarian, Anastasia tak jua ditemukan. Pukul 12.00 perempuan itu didapati tidak lagi bernapas. Harry menggerak-geraknya badan Anastasia. Namun, tidak ada respons. “Saya sangat sedih sampai kepala ini rasanya mau saya benturkan saja ke tembok,” katanya.

Kisah sedih kehilangan Anastasia dia tulis di dunia maya. Simpati pun mengalir. Mereka membantu Harry menata ulang hidupnya.”Tahun lalu Harry ditawari membuat buku. Kisah tragedi 2006 itu jadi satu bab tersendiri di bukunya yang diberi kata pengantar oleh Wali Kota Jogjakarta (saat itu) Herry Zudianto.

“Saya minta Pak Herry memberikan pengantar. Tidak ketemu langsung, hanya saya sapa lewat Facebook,” ujarnya. Buku tersebut kini makin langka di toko karena laris. “Saya belum tahu apakah penerbitnya akan cetak lagi,” tuturnya.

Sumber: JPNN

Posted in: Blackberry